Surabaya, insanimedia.id Dewan pimpinan Cabang Indonesian National Shipowners Association (INSA) Cabang Surabaya menggelar rapat anggota cabang (RAC) di hotel Marriot Surabaya, Jumat (31-07-2026). Musyawarah cabang kali ini diikuti oleh 168 anggota dengan agenda pembahasan suksesi INSA kedepan seksligus pemilihan ketua DPC.
Ketua DPC INSA Surabaya, Stenvens Handry Lesawengen mengatakan, industri pelayaran tidak hanya berbicara mengenai aktivitas mengangkut barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Lebih dari itu, transportasi laut merupakan urat nadi yang menjaga konektivitas antarpulau sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban di hadapan ratusan anggota, Stenvens menegaskan bahwa pelayaran bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan instrumen yang menjaga konektivitas ribuan pulau sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.
“Pelayaran adalah kekuatan yang mempersatukan sekaligus melindungi kedaulatan bangsa. INSA hadir untuk menyatukan dan melindungi segenap potensi maritim negeri. Setiap detik, organisasi ini menciptakan pertumbuhan ekonomi. INSA bisa berdiri dan berkembang tanpa pihak lain, namun banyak pihak yang tidak dapat berjalan tanpa dukungan INSA,” ujar Stenvens.
Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya kontribusi industri pelayaran terhadap berbagai sektor ekonomi. Aktivitas distribusi bahan pangan, energi, hasil pertanian, produk industri, hingga komoditas ekspor sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut. Ketika rantai distribusi berjalan baik, roda perekonomian nasional pun ikut bergerak.
Kepercayaan yang kembali diberikan anggota melalui mekanisme aklamasi menjadi modal penting bagi Stenven untuk melanjutkan program-program strategis organisasi. Ia menilai tantangan dunia pelayaran ke depan akan semakin kompleks seiring meningkatnya tuntutan efisiensi, digitalisasi layanan, serta persaingan industri logistik yang semakin ketat.
Usai ditetapkan kembali sebagai Ketua DPC INSA Surabaya periode 2026–2030, Stenven menegaskan komitmennya untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor maritim.
“Ke depannya, INSA akan terus tumbuh dan menjadi mitra utama pemerintah. Kami menjaga kebersamaan dan kepentingan seluruh anggota, serta memastikan kedaulatan ekonomi tetap terjaga,” tegasnya.
Menurutnya, organisasi hanya akan kuat jika mampu mengakomodasi seluruh kepentingan anggota. Karena itu, penyusunan kepengurusan baru akan dilakukan secara inklusif dengan melibatkan berbagai perusahaan anggota, baik perusahaan besar maupun pelaku usaha lainnya, sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar merepresentasikan kebutuhan dunia pelayaran.
Bersama jajaran pengurus yang baru, DPC INSA Surabaya diharapkan tidak hanya menjadi wadah komunikasi antarpelaku usaha, tetapi juga tampil sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan yang mendorong kemajuan sektor maritim nasional.
Kepemimpinan baru DPC INSA Surabaya tidak hanya membawa agenda konsolidasi organisasi, tetapi juga mempersiapkan langkah besar menghadapi perubahan industri maritim yang bergerak semakin cepat. Di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi logistik dan digitalisasi layanan kepelabuhanan, organisasi pelayaran dituntut mampu beradaptasi agar tetap menjadi tulang punggung distribusi nasional.
Dalam jangka pendek, DPC INSA Surabaya akan membentuk struktur kepengurusan periode 2026–2030 dengan melibatkan representasi perusahaan-perusahaan anggota dari berbagai segmen usaha. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat sinergi internal sekaligus memastikan setiap kebijakan organisasi lahir dari aspirasi seluruh anggota.
Bersama 17 pengurus lainnya, Stenvens H Lesawengen menyatakan komitmennya menjalankan amanah organisasi dengan mengedepankan profesionalisme, kolaborasi, dan keberlanjutan.
Kepengurusan baru juga diarahkan untuk memperkuat komunikasi dengan pemerintah, operator pelabuhan, serta seluruh pemangku kepentingan di sektor kemaritiman.
Rekam jejak DPC INSA Surabaya dalam kancah nasional maupun internasional menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Pada 2022, organisasi ini pernah menjadi bagian dari delegasi maritim Indonesia dalam forum International Maritime Organization (IMO), yang menunjukkan keterlibatan aktif pelaku usaha pelayaran nasional dalam mendukung kebijakan kemaritiman di tingkat global.
Selain itu, Stenven mengungkapkan bahwa anggota DPC INSA Surabaya saat ini menggerakkan sedikitnya 11 sektor bisnis maritim yang saling terintegrasi. Tidak hanya perusahaan pelayaran, tetapi juga mencakup jasa bongkar muat, transportasi darat pendukung logistik, pengelolaan depo peti kemas, pergudangan, hingga berbagai layanan penunjang lain yang menopang aktivitas perdagangan nasional.
Ke depan, organisasi menargetkan penguatan posisi INSA sebagai mitra strategis pemerintah melalui percepatan digitalisasi layanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kerja sama dengan kalangan akademisi dan dunia pendidikan. Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan inovasi yang mampu menjawab perubahan industri pelayaran yang semakin dinamis.
Bagi DPC INSA Surabaya, tantangan lima tahun mendatang bukan hanya menjaga keberlangsungan organisasi, melainkan memastikan sektor pelayaran nasional tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap perdagangan global.
Efisiensi logistik, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia akan menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing maritim Indonesia.
Lima tahun ke depan menjadi periode yang menentukan bagi industri pelayaran nasional. Ketika pemerintah mendorong efisiensi biaya logistik dan transformasi digital di seluruh pelabuhan, organisasi seperti INSA dituntut tidak hanya menjadi wadah berhimpun para pelaku usaha, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang menjawab perubahan zaman.
Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Stenven bukanlah garis akhir sebuah RAC, melainkan awal dari babak baru bagi DPC INSA Surabaya dalam menjawab tantangan industri maritim yang terus berubah. Di tengah ambisi Indonesia memperkuat posisinya sebagai negara maritim, keberhasilan organisasi ini kelak tidak hanya diukur dari soliditas internalnya, tetapi juga dari sejauh mana mampu mendorong efisiensi logistik, memperkuat daya saing pelayaran nasional, dan menjaga denyut perdagangan yang menggerakkan perekonomian Jawa Timur.







