Platform Digdaya Terancam Diamputasi, NU Hadapi Risiko Kemunduran Digital

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

JAKARTA, insanimedia.id – Transformasi digital di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi agenda krusial yang tidak bisa ditawar, terutama saat memasuki abad kedua usianya. Salah satu inisiatif utamanya adalah pengembangan platform Digdaya yang dirancang sebagai ekosistem digital terintegrasi sekaligus pusat mahadata (big data) bagi warga Nahdliyin.

​Founder Alvara Research Center sekaligus mantan Ketua PBNU, Hasanuddin Ali, menegaskan bahwa platform ini merupakan landasan krusial bagi peta jalan (roadmap) jangka panjang organisasi.

​”Kalau misalkan ini (platform Digdaya) kemudian diamputasi, enggak dipakai, wah itu kemunduran besar bagi NU,” ungkap Hasanuddin dalam sebuah diskusi siniar di kanal YouTube Ruang Publik.

​Menurutnya, Digdaya bukan sekadar alat administratif semata, melainkan pilar utama sistem digitalisasi jamiah. Ia menyayangkan apabila muncul wacana untuk menghentikan program tersebut.

​”Digdaya itu sebetulnya adalah fondasi atas ekosistem digital NU yang luar biasa besar kalau kita mau kembangkan ke depannya, enggak cuma urusan surat-menyurat,” tambah Hasanuddin.

​Senada dengan hal itu, Tokoh NU dan mantan Ketua PBNU, Savic Ali, menyoroti bahwa adaptasi teknologi merupakan realitas zaman yang mutlak dihadapi oleh organisasi kemasyarakatan sebesar NU. Pengabaian terhadap transformasi digital justru akan membawa kerugian strategis di masa mendatang.

​”Perkembangan teknologi sudah enggak bisa dielakkan. Jadi siapapun yang berusaha menghindarinya ya nanti akan merasa, bahwa itu keputusan yang keliru,” jelas Savic.

​Keberlanjutan ekosistem digital di tubuh NU dinilai menjadi kunci bagi kemandirian dan kemajuan organisasi, serta memfasilitasi pelayanan yang lebih relevan bagi jutaan warganya dalam menghadapi tantangan global mendatang.

Baca Juga :  Menakar Harapan Nahdliyin pada Pengurus Baru PBNU