Memperingati 45 Tahun Dies Natalis Unitomo (Episode 3) AI dan Masa Depan Universitas

Oleh: Ulul Albab Mantan Rektor Unitomo (2007-2013)

Surabaya, insanimedia.id – Artikel ini saya persembahkan buat seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia, khususnya buat Universitas Dr. Soetomo yang saat ini sedang merayakan Dies Natalisnya yang ke 45. Semoga bermanfaat.

Realitas Global

Dunia pendidikan tinggi kita saat ini sedang memasuki perubahan yang sangat radikal dan paling mendasar sejak lahirnya universitas modern. Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) saat ini bukan lagi hanya sekedar teknologi pendukung. Tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan akademik sehari-hari.

Mahasiswa menggunakan AI untuk memahami konsep-konsep yang rumit, dosen memanfaatkannya untuk menyusun materi pembelajaran, peneliti mempercepat analisis data, sementara pimpinan universitas mulai memanfaatkan sistem berbasis AI untuk mendukung pengambilan keputusan.

Perubahan ini berlangsung sangat cepat. Apa yang pada awal dekade 2020-an dianggap sebagai inovasi, kini telah menjadi bagian dari rutinitas di banyak perguruan tinggi dunia. Universitas-universitas terkemuka tidak lagi bertanya apakah AI akan memengaruhi pendidikan tinggi, justru mereka saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri bagaimana mengelola AI agar memperkuat kualitas pembelajaran, penelitian, dan tata kelola tanpa mengorbankan integritas akademik.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan yang menurut saya sangat mendasar daripada persoalan teknis penggunaan aplikasi. Pertanyaanya adalah: “Apakah AI hanya mengubah cara belajar, atau jangan-jangan sedang mengubah hakikat universitas itu sendiri?

Telaah Akademik

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai pemikir dunia memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai hubungan antara AI dan masa depan pendidikan. Kai-Fu Lee, melalui AI Superpowers, menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang akan mengubah hampir seluruh sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Menurutnya, keunggulan suatu bangsa pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan algoritma, tetapi juga oleh kemampuannya menyiapkan manusia yang mampu bekerja bersama teknologi secara kreatif dan etis.

Baca Juga :  Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di FH UI, Singkap Lemahnya Sistem Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus

Pandangan tersebut diperdalam oleh Ethan Mollick dalam Co-Intelligence. Mollick mengajak kita melihat AI bukan sebagai pesaing manusia, justru sebagai co-intelligence (mitra intelektual) yang dapat membantu manusia berpikir, mengeksplorasi gagasan, dan meningkatkan produktivitas. Namun ia juga mengingatkan bahwa manfaat AI hanya akan maksimal jika manusia tetap memegang kendali atas penilaian, tanggung jawab, dan keputusan akhir.

Perspektif etis ditegaskan oleh UNESCO Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence (2021). UNESCO menempatkan nilai-nilai hak asasi manusia, keadilan, transparansi, akuntabilitas, perlindungan privasi, dan keberlanjutan sebagai fondasi dalam pemanfaatan AI. Dengan demikian, kecanggihan teknologi tidak boleh mengurangi martabat manusia ataupun memperlebar ketimpangan sosial.

Sementara itu, OECD dalam berbagai kajiannya mengenai masa depan pendidikan menekankan bahwa kompetensi yang paling dibutuhkan pada era AI bukan hanya penguasaan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, empati, literasi digital, dan pembelajaran sepanjang hayat. AI dapat mempercepat akses terhadap informasi, tetapi tidak dapat menggantikan kebijaksanaan dalam menggunakan informasi tersebut.

Keempat perspektif tersebut mengarah pada satu kesimpulan penting, yaitu: masa depan universitas tidak ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang dimiliki, tetapi oleh kemampuannya mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan.

Gagasan Baru: AI-Augmented University

Dari berbagai perkembangan tersebut, saya mengusulkan sebuah kerangka konseptual yang dapat menjadi arah transformasi pendidikan tinggi Indonesia, yaitu AI-Augmented University. 

Selama ini perkembangan universitas sering digambarkan dalam tiga generasi. Generasi pertama adalah Teaching University, yaitu ketika universitas berfokus pada pengajaran. Generasi kedua berkembang menjadi Research University, yang menempatkan riset sebagai pusat penciptaan ilmu pengetahuan. Generasi ketiga dikenal sebagai Entrepreneurial University, yang menghubungkan pengetahuan dengan inovasi, industri, dan pembangunan ekonomi.

Baca Juga :  Calon Walikota Blitar : Kita Ingin Banyak Sarjana dan Dokter yang Dibiayai APBD

Namun memasuki era kecerdasan artifisial, ketiga model tersebut tidak lagi memadai jika berdiri sendiri. Universitas perlu memasuki generasi keempat, yaitu: AI-Augmented University.

Dalam model ini, AI tidak menggantikan dosen, tetapi memperkaya proses mengajar. AI tidak pula menggantikan mahasiswa, tetapi memperluas kesempatan belajar secara personal. AI juga tidak menggantikan peneliti, tetapi mempercepat penemuan ilmiah. Pun AI tidak menggantikan pimpinan universitas, tetapi membantu pengambilan keputusan yang berbasis data.

Yang tetap tidak tergantikan adalah penilaian etis, kebijaksanaan, imajinasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral manusia.

Dengan kata lain, AI-Augmented University bukanlah universitas yang lebih “otomatis”, tetapi universitas yang lebih “manusiawi” karena memanfaatkan teknologi untuk membebaskan manusia dari pekerjaan yang bersifat rutin sehingga energi intelektual dapat diarahkan pada kreativitas, inovasi, dan pengabdian.

Apa Refleksinya Untuk Indonesia?

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan AI sebagai akselerator peningkatan mutu pendidikan tinggi. Dengan jumlah mahasiswa yang sangat besar dan wilayah yang luas, AI dapat membantu personalisasi pembelajaran, memperluas akses terhadap sumber belajar berkualitas, meningkatkan efisiensi administrasi akademik, serta mempercepat kolaborasi riset.

Namun peluang tersebut hanya akan terwujud jika diiringi kesiapan sumber daya manusia, tata kelola yang adaptif, infrastruktur digital yang memadai, serta komitmen terhadap etika akademik.

Perguruan tinggi Indonesia juga perlu menghindari dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah menolak AI karena dianggap mengancam pendidikan. Ekstrem kedua adalah menerima AI tanpa membangun literasi kritis dan etika penggunaannya. Transformasi yang dibutuhkan bukan hanya transformasi teknologi semata, tetapi transformasi budaya akademik.

Apa Refleksinya Untuk UNITOMO

Memasuki usia ke-45, Universitas Dr. Soetomo memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu pelopor transformasi pendidikan tinggi berbasis AI di Indonesia. Transformasi tersebut tidak harus dimulai dari investasi teknologi yang mahal. Langkah pertama justru terletak pada pembangunan budaya belajar baru.

Baca Juga :  7 Dosen Unair, Masuk Top 2 Persen Peneliti Dunia

Misalnya: Dosen didorong menjadi fasilitator pembelajaran yang memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Mahasiswa dibimbing agar menggunakan AI sebagai alat untuk memperdalam analisis, bukan sebagai jalan pintas yang dapat merusak integritas akademik. Penelitian diperkuat dengan pemanfaatan AI untuk eksplorasi data, tanpa mengabaikan ketelitian metodologis dan etika ilmiah.

Dalam konteks tata kelola, UNITOMO dapat mengembangkan pengambilan keputusan berbasis data, layanan akademik yang lebih cerdas, serta sistem penjaminan mutu yang memanfaatkan analitik digital. Dengan demikian, AI menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas institusi, bukan hanya simbol modernisasi atau hanya untuk gagah-gagahan.