insanimedia.id – Hari Anak Nasional seharusnya menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Bagi saya, ini adalah momentum untuk kembali bertanya: apakah kita sudah benar-benar memberi ruang bagi anak untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri?
Sering kali, orang dewasa terlalu cepat menentukan seperti apa anak harus berhasil. Nilai akademik dijadikan ukuran utama, sementara bakat, minat, kreativitas, bahkan keberanian anak untuk mencoba hal baru justru terabaikan. Padahal, setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda. Tidak semua harus pandai berhitung, tidak semua harus menjadi juara kelas. Ada anak yang tumbuh melalui seni, olahraga, kepemimpinan, atau kemampuan berempati kepada sesama.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Indonesia memiliki sekitar 88,7 juta anak, atau hampir sepertiga dari total penduduk. Jumlah ini bukan sekadar angka, melainkan amanah besar bagi kita semua untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya.

Saya percaya, bakat tidak lahir dari paksaan. Bakat tumbuh ketika anak diberi kesempatan mencoba, didengarkan pendapatnya, dan merasa aman untuk gagal. Lingkungan yang suportif jauh lebih penting daripada tuntutan untuk selalu menjadi yang terbaik. Ketika anak merasa dihargai, mereka akan lebih percaya diri untuk belajar, berkarya, dan bermimpi.
Karena itu, tugas kita bukan mencetak anak dengan ukuran yang seragam, melainkan menemani mereka menemukan jalan masing-masing. Orang tua, guru, komunitas, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan ruang yang aman, menyenangkan, dan penuh dukungan bagi setiap anak.
Saya berharap Hari Anak Nasional tidak berhenti sebagai seremoni. Semoga peringatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia dibentuk oleh anak-anak yang hari ini diberi kebebasan untuk belajar, keberanian untuk bermimpi, dan lingkungan yang percaya pada kemampuan mereka. Sebab, ketika seorang anak menemukan potensinya, bukan hanya masa depannya yang sedang dibangun, tetapi juga masa depan bangsa.







