Surabaya, insanimedia.id – Ada masa ketika sebuah bangsa tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan teknologi, bahkan tidak kekurangan informasi. Namun, pada saat yang sama, bangsa itu mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu: kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Fakta dikalahkan oleh persepsi, integritas dikalahkan oleh popularitas, dan kebisingan lebih didengar daripada kebijaksanaan. Pada titik inilah sebuah hadis Rasulullah SAW terasa begitu aktual untuk dibaca kembali.
Lebih dari empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya (sanawaatun khadda’at). Pada masa itu pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan Ruwaibidhah berbicara mengenai urusan masyarakat.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya)
Hadis ini sering dipahami sebagai salah satu tanda menjelang hari kiamat. Namun, jika direnungkan lebih mendalam, sesungguhnya Rasulullah SAW sedang mengajarkan sebuah hukum sosial: bahwa keruntuhan sebuah peradaban tidak selalu dimulai oleh kemiskinan, peperangan, atau bencana alam. Tetapi bisa berawal dari berubahnya ukuran kebenaran.
Perhatikan bagaimana Rasulullah menyusun hadis tersebut. Beliau tidak mengatakan bahwa akan muncul banyak pendusta. Pendusta memang selalu ada dalam setiap zaman. Yang beliau gambarkan justru jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu ketika “pendusta dipercaya.” Kebohongan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru memperoleh legitimasi sosial. Ia diterima, dibenarkan, bahkan disebarluaskan tanpa rasa bersalah.
Sebaliknya, “orang yang jujur justru didustakan.” Kejujuran kehilangan tempat terhormat dalam kehidupan publik. Orang yang menyampaikan fakta sering dicurigai memiliki agenda tersembunyi, sementara mereka yang pandai membangun citra lebih mudah memperoleh simpati. Dalam situasi seperti ini, masyarakat sedikit demi sedikit kehilangan ketahanan moralnya.
Rasulullah SAW kemudian melanjutkan dengan peringatan berikutnya: “pengkhianat diberi amanah, sedangkan orang yang amanah justru dianggap pengkhianat.” Amanah, yang dalam Islam merupakan fondasi kepemimpinan dan pelayanan publik, tidak lagi menjadi ukuran utama. Penilaian terhadap seseorang bergeser dari integritas ke kepentingan sesaat. Kepercayaan tidak lagi diberikan kepada mereka yang layak, tetapi justru diberikan kepada mereka yang paling mampu membangun persepsi.
Puncak dari seluruh gejala itu adalah munculnya “Ruwaibidhah.” Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah “siapa yang dimaksud Ruwaibidhah, Rasulullah menjawab, “Orang yang remeh, tidak memiliki kapasitas, tetapi berbicara mengenai urusan masyarakat.”
Pesan ini bukan berarti Islam melarang setiap orang menyampaikan pendapat. Islam justru menjunjung tinggi musyawarah dan kebebasan berpikir. Yang diperingatkan Rasulullah adalah ketika persoalan-persoalan publik yang kompleks dikendalikan oleh orang yang tidak memiliki ilmu, kompetensi, maupun tanggung jawab moral.
Sulit menolak kenyataan bahwa hadis ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan kehidupan modern. Era digital telah membawa manfaat luar biasa bagi penyebaran ilmu pengetahuan, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan baru. Informasi bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Opini sering kali mengalahkan data. Algoritma media sosial lebih menyukai sensasi daripada substansi. Akibatnya, masyarakat dapat terjebak dalam situasi ketika sesuatu dianggap benar bukan karena bukti yang kuat, tetapi karena sering diulang dan banyak dibagikan.
Dalam suasana seperti itu, menjaga akal sehat menjadi bagian dari ibadah. Al-Qur’an berulang kali memerintahkan orang beriman untuk melakukan “tabayyun,” memeriksa setiap informasi sebelum mempercayainya. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui tanggung jawab intelektual. Seorang mukmin tidak boleh mudah mempercayai kabar, tidak tergesa-gesa menyebarkan informasi, dan tidak menjadikan prasangka sebagai dasar penilaian.
Karena itu, hadis tentang “sanawatun khadda’at” hendaknya tidak dibaca sebagai alasan untuk menghakimi zaman atau menyalahkan orang lain. Rasulullah SAW menyampaikan hadis ini agar umat memiliki kewaspadaan moral. Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah, “Siapakah pendusta itu?” atau “Siapakah Ruwaibidhah itu?”
Tetapi pertanyaan lebih pentingnya adalah: “apakah kita ikut mempercayai kebohongan hanya karena sesuai dengan keinginan kita? Apakah kita ikut meragukan orang-orang jujur hanya karena mereka menyampaikan kebenaran yang tidak kita sukai? Apakah kita ikut memberi panggung kepada mereka yang berbicara tanpa ilmu, sementara mengabaikan mereka yang memiliki kompetensi dan integritas?”
Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi yang semakin tajam, kita membutuhkan lebih banyak keberanian untuk membela kebenaran daripada sekedar memenangkan perdebatan. Kita membutuhkan lebih banyak penghormatan kepada ilmu daripada sekadar mengejar popularitas. Dan kita membutuhkan lebih banyak amanah daripada sekadar pencitraan.
Mungkin inilah pesan terdalam dari hadis Rasulullah SAW tersebut. Beliau tidak sedang mengajarkan kita untuk takut menghadapi zaman, tetapi mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang tetap teguh ketika zaman sedang kehilangan arah. Selama masih ada orang-orang yang memelihara kejujuran, menjaga amanah, menghormati ilmu, dan berani melakukan tabayyun sebelum mempercayai sebuah berita, harapan untuk membangun peradaban yang bermartabat akan selalu ada.
Semoga negeri ini terhindar dari warning Rasulullah tersebut. Amin.






