Lahirnya Identitas Islam Hibrida ‘Garangan’ di Era Digital

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

INSANIMEDIA.ID – Selama puluhan tahun, studi tentang Islam di Jawa sering kali terpaku pada dikotomi klasik antara “santri” dan “abangan” yang dicetuskan oleh antropolog Clifford Geertz. Konsep ini memisahkan kaum santri sebagai kelompok yang taat mempraktikkan syariat Islam, sementara abangan dianggap kurang taat dan lebih kental dengan praktik keagamaan sinkretis.

Namun, realitas masa kini menunjukkan sebuah pergeseran sosiologis yang menarik melalui kehadiran Majelis Sabilu Taubah di Pesantren Mambaul Hikam 2, Blitar, Jawa Timur, yang dipimpin oleh sosok pendakwah muda, Agus Muhamad Iqdam atau yang akrab disapa Gus Iqdam. Berdiri sejak 7 Desember 2018 dengan hanya tujuh anggota awal, majelis ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan kini dihadiri oleh ribuan jamaah.

Menariknya, majelis ini tidak sekadar diisi oleh kalangan agamis konvensional, melainkan dibanjiri oleh kelompok dari latar belakang pinggiran—seperti mantan preman, penjudi, pemabuk, dan penghibur klub malam—yang dijuluki oleh Gus Iqdam sebagai “garangan” atau “santri mbeling”.

Fenomena Gus Iqdam bukan sekadar tren keagamaan sesaat, melainkan bukti otentik lahirnya identitas hibrida baru yang meruntuhkan hierarki kesalehan tradisional, serta membuktikan bahwa dakwah inklusif jauh lebih efektif merangkul kelompok marjinal.

​”Garangan” sebagai Ruang Abu-abu Hibrida Keagamaan

Istilah “garangan” yang menaungi jamaah berlatar belakang jalanan ini tidak bisa lagi dijejalkan ke dalam kerangka kaku abangan maupun santri ala Geertz, serta gagal diwadahi oleh konsep “Islam nominal” usulan M.C. Ricklefs. Melalui kacamata fenomenologis, kelompok ini sejatinya sedang mengonstruksi sebuah identitas hibrida keagamaan yang unik.

​Jamaah “garangan” hidup dalam sebuah ruang abu-abu (liminal). Di satu sisi, mereka berani mengidentifikasi diri sebagai santri yang sedang berproses belajar agama, namun di sisi lain, secara alamiah mereka masih mempertahankan beberapa aspek profesi maupun jejak kehidupan keras mereka sebelumnya. Ruang liminal ini memberi mereka ruang napas psikologis untuk membangun dan mengekspresikan identitas beragamanya secara nyata tanpa tuntutan untuk menjadi suci secara instan.

Baca Juga :  Soal Revisi UU PSDN Pertahanan Tanpa Partisipasi Maka Negara Bekerja Sendiri

​Strategi Dakwah Milenial dan Ruang Publik Digital

Daya tarik utama yang membuat majelis Sabilu Taubah sukses menggaet ribuan jamaah “garangan” berakar pada corak dakwahnya yang amat adaptif. Kelompok ini merasa nyaman bergabung karena metode dakwah Sabilu Taubah dirancang agar ramah, berorientasi milenial, memikat, dan sama sekali tidak menghakimi (non-judgmental).

Relasi terbangun kuat karena pilihan narasi dakwah yang dekat dengan akar rumput, tergambar dari ragam komentar yang mendeskripsikan pengajian ini dengan istilah ramah “anak muda”, berisi “guyonan”, dan “menyejukkan hati”. Keberhasilan ini semakin tereskalasi karena majelis tidak hanya bergerak di ranah luring, tetapi juga secara cerdas memanfaatkan platform daring yang memancing perhatian publik secara sangat masif.

Kemunculan identitas “garangan” ini menegaskan bahwa wajah dan dinamika keberagamaan masyarakat amatlah cair dan menuntut perbaruan cara pandang akademik kita. Identitas hibrida ini memberi pesan kuat bahwa religiositas adalah proses yang harus berjalan di atas arena yang inklusif, terbuka bagi siapa saja terlepas dari masa lalu mereka.

Ke depannya, otoritas keagamaan dan para pembuat kebijakan perlu mengambil hikmah dari fenomena Sabilu Taubah: komunikasi keagamaan yang ramah, membumi, dan tidak menghakimi justru menjadi instrumen paling berdaya guna untuk merangkul dan membimbing kelompok-kelompok rentan menuju transformasi spiritual di era digital.

​Referensi:

  • ​Mustofa, S., Fata, M. K., & Ardiani, S. M. (2025). Beyond Abangan-Santri: Majelis Sabilu Taubah and New Hybrid Identities. Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 23(2), 122-142. DOI: 10.21154/dialogia.v23i02.11932.
  • ​Geertz, C. (1964). The Religion of Java. London: Free Press of Gleoce.