insanimedia.id – Enam puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan perubahan rezim, pergantian generasi, pergeseran ideologi, transformasi ekonomi, hingga perubahan wajah demokrasi Indonesia. Pada usia itu pula Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) memasuki salah satu fase paling penting dalam perjalanan sejarahnya.
KAHMI didirikan pada 17 September 1966 di sela-sela Kongres VIII HMI di Surakarta. Gagasan pembentukan wadah alumni tersebut dibicarakan dalam Musyawarah Nasional Alumni HMI pada 15 September dan kemudian disahkan dua hari kemudian. Pada awalnya KAHMI merupakan bagian khusus dari HMI yang berfungsi sebagai ruang informasi dan konsultasi bagi alumni. Seiring perkembangan organisasi, pada 1987 KAHMI berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan yang berdiri secara organisatoris terpisah dari HMI. (KAHMI Nasional)
Kini, enam dekade kemudian, pertanyaan yang relevan bukan hanya seberapa jauh KAHMI telah berjalan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: untuk apa perjalanan enam puluh tahun itu harus dipertanggungjawabkan?
Sebab semakin besar usia sebuah organisasi, semakin besar pula tuntutan untuk melakukan introspeksi.
KAHMI lahir dari tradisi intelektual HMI. Alumni HMI tersebar ke berbagai ruang pengabdian: akademisi, birokrasi, politik, dunia usaha, hukum, media, hingga masyarakat sipil. Karena itu, kekuatan KAHMI sesungguhnya tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi pada kualitas gagasan dan integritas alumni yang mengisi ruang-ruang strategis tersebut.
Namun di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Ketika Alumni Berhadapan dengan Kekuasaan
Tidak sedikit alumni HMI yang kemudian memasuki dunia kekuasaan. Sebagian menjadi pejabat negara, politisi, birokrat, akademisi, profesional, maupun pengusaha. Fenomena tersebut merupakan konsekuensi alamiah dari proses kaderisasi yang memang mendorong kader untuk berkiprah di berbagai bidang kehidupan.
Masalahnya bukan pada apakah alumni HMI boleh berada di dalam kekuasaan.
Masalahnya adalah apa yang dilakukan ketika berada di dalam kekuasaan.
Kekuasaan selalu membawa godaan. Ia dapat mengubah cara seseorang melihat prinsip, kawan, lawan, bahkan dirinya sendiri. Karena itu, alumni HMI yang memasuki ruang kekuasaan tidak cukup hanya membawa identitas sebagai “alumni HMI”. Ia harus membawa nilai-nilai yang pernah dipelajari dan diperjuangkan ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik ini, KAHMI menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
Apakah alumni yang telah memperoleh posisi strategis mampu tetap menjadi suara kritis ketika kebijakan negara menyimpang dari kepentingan publik?
Apakah keberadaan alumni di lingkaran kekuasaan akan menjadi jembatan bagi kepentingan masyarakat atau justru berubah menjadi jaringan kepentingan?
Dan yang paling penting: apakah KAHMI akan tetap mampu memberikan kritik kepada kekuasaan ketika sebagian alumninya berada di dalam struktur kekuasaan itu sendiri?
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menegasikan kontribusi alumni. Justru sebaliknya, pertanyaan itu diperlukan karena posisi strategis menuntut tanggung jawab yang lebih besar.
Dari “Insan Cita” Menuju Realitas
Tradisi HMI tidak dapat dilepaskan dari dunia gagasan. Perdebatan intelektual, keislaman, kebangsaan, demokrasi, hukum, dan kemasyarakatan merupakan bagian dari perjalanan panjang organisasi tersebut.
Karena itu, KAHMI semestinya tidak berhenti menjadi forum silaturahmi alumni.
Silaturahmi memang penting. Tetapi organisasi yang telah berusia enam dekade membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia.
KAHMI membutuhkan keberanian untuk kembali menjadi ruang produksi gagasan.
Indonesia hari ini menghadapi persoalan yang jauh berbeda dengan Indonesia 1966. Tantangannya mencakup transformasi digital, kecerdasan buatan, ketimpangan ekonomi, perubahan struktur pekerjaan, krisis lingkungan, disinformasi, demokrasi digital, persoalan hukum, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi.
Dalam situasi seperti itu, alumni HMI tidak cukup hanya hadir sebagai penonton.
Mereka harus mampu membaca perubahan zaman.
KAHMI perlu menjadi ruang tempat pengalaman generasi senior bertemu dengan kegelisahan generasi muda. Alumni yang pernah berada dalam pemerintahan harus dapat berdialog dengan akademisi. Praktisi hukum harus bertemu dengan aktivis masyarakat sipil. Pengusaha harus mendengar suara kelompok rentan. Politisi harus berhadapan dengan kritik intelektual.
Dengan demikian, KAHMI tidak menjadi organisasi yang hanya berbicara kepada dirinya sendiri.
Jangan Sampai Identitas Mengalahkan Integritas
Salah satu risiko terbesar organisasi alumni adalah terjebak dalam romantisme identitas.
Label “alumni HMI” memang memiliki sejarah panjang. Tetapi identitas tidak boleh menjadi pengganti kualitas.
Seorang alumni tidak seharusnya dihormati semata-mata karena pernah mengenakan jas hijau-hitam. Ia harus dinilai berdasarkan gagasan, integritas, kompetensi, dan kontribusinya kepada masyarakat.
Sebab masyarakat tidak membutuhkan sekadar banyaknya alumni HMI yang menduduki jabatan.
Masyarakat membutuhkan alumni HMI yang ketika berada dalam jabatan mampu mempertanggungjawabkan keputusan kepada publik.
Di sinilah makna pengabdian menjadi penting.
Dalam Anggaran Dasar KAHMI, tanggung jawab alumni ditempatkan dalam kerangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur melalui kerja kemanusiaan sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam. (Kahmi Jaya)
Maka, jabatan seharusnya bukan tujuan akhir.
Jabatan adalah instrumen.
Kekuasaan adalah amanah.
Dan ilmu adalah tanggung jawab.
Enam Puluh Tahun dan Generasi Berikutnya
Milad ke-60 KAHMI tidak semestinya hanya menjadi perayaan generasi yang telah lama berkiprah. Ia juga harus menjadi ruang evaluasi mengenai masa depan generasi berikutnya.
Alumni muda membutuhkan ruang untuk tumbuh. Mereka membutuhkan akses terhadap pengetahuan, jaringan profesional, mentoring, kesempatan berkontribusi, dan ruang untuk menyampaikan gagasan tanpa harus terlebih dahulu memiliki posisi politik atau kekuasaan.
KAHMI harus mampu menjadi jembatan antargenerasi.
Generasi senior membawa pengalaman.
Generasi muda membawa energi dan perspektif baru.
Jika keduanya bertemu dalam ruang dialog yang sehat, organisasi akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Tema Milad ke-60, “KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa”, karena itu dapat dibaca sebagai tantangan sekaligus refleksi. Kedaulatan bangsa tidak hanya berkaitan dengan wilayah dan negara, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk menentukan masa depannya berdasarkan kepentingan publik, hukum, pengetahuan, dan keadilan. (Bawaslu Lamteng)
Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Perayaan
Enam puluh tahun KAHMI adalah pencapaian sejarah. Tetapi sejarah tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan.
Justru setelah enam dekade, pertanyaan yang lebih sulit harus diajukan: apa yang akan diwariskan KAHMI kepada Indonesia setelah generasi hari ini selesai menjalankan pengabdiannya?
Apakah hanya daftar panjang alumni yang pernah menduduki jabatan?
Ataukah tradisi intelektual, keberanian moral, dan kontribusi nyata bagi masyarakat?
KAHMI akan selalu memiliki alumni yang berada di dalam kekuasaan. Itu merupakan bagian dari dinamika perjalanan organisasi dan kehidupan berbangsa.
Namun ukuran keberhasilannya bukanlah seberapa dekat alumni dengan pusat kekuasaan.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa kuat mereka mempertahankan prinsip ketika berada dekat dengan kekuasaan.
Sebab pada akhirnya, alumni HMI tidak hanya diuji ketika berada di luar kekuasaan. Mereka justru diuji ketika memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuasaan.
Enam puluh tahun KAHMI seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa organisasi bukanlah tujuan akhir. Kekuasaan bukanlah tujuan akhir. Jabatan bukanlah tujuan akhir.
Semua itu hanyalah alat.
Yang menjadi tujuan akhirnya tetap pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Karena itu, Milad ke-60 KAHMI bukan sekadar perayaan usia.
Ia adalah pertanyaan terbuka kepada seluruh alumninya:
Setelah enam puluh tahun perjalanan, ketika zaman berubah dan kekuasaan datang silih berganti, masihkah kita mampu menjaga nilai yang dahulu membuat kita memilih jalan perjuangan?







