insanimedia.id – Ketika mega proyek Tol Kediri-Tulungagung dan Bandara Internasional Dhoho yang nantinya pasti akan mempermudah perpindahan kendaraan dan percepatan distribusi dalam kegiatan ekonomi, namun selain hal tersebut juga berpotensi menimbulkan fenomena sosiologis yang dapat disebut dengan disrupsi konektivitas.
Tentunya gerbong beton ini juga akan secara agresif menjebol banteng kultur lokal. Budaya luar, nilai-nilai transnasional, gaya hidup hedonistik, dan individualisme mengalir masuk tanpa filter ke dalam ruang domestik kita.
Fenomena ini akan memicu yang dalam sosiologi disebut sebagai future shock dan culture shock (gegar budaya). Hal ini merupakan suatu kondisi dimana masyarakat , terutama generasi muda mengalami disorientasi psikologi dan kehilangan kompas nilai karena adanya perubahan lingkungan sosial yang terlalu cepat.
Sayangnya gempuran kultur dari luar ini datang pada saat ketahanan metal generasi muda kita sedang tidak baik-baik saja. Institusi pendidikan formal kita gagal total dalam melakukan character building (pembangunan karakter), dimana pengajaran moral direduksi secara dangkal sebatas angka diatas kertas rapor dan hafalan teori, akibatnya terjadi moral decay (pembusukan moral) massal, pemuda kita mengalami tekanan perubahan zaman yang paling berat.
Penurunan nilai moral ini bukan hanya asumsi belaka, akan tetapi telah menjadi penyakit sosial dalam lingkungan masyarakat yang akut. Kita dapat melihatnya dalam beberapa indikator empiris berikut ini :
1. Kecanduan Judi Online dan Kerusakan Kognitif.
Berdasarkan data nasional yang beririsan dengan dinamika pemuda di Jawa Timur, paparan judi online dan pinjaman online illegal telah merusak struktur mental anak muda. Ini bukan hanya sekedar masalah kehilangan uang melainkan juga suatu tanda hilangnya etos hidup yang sehat. Algoritma digital saat ini telah menjebak pemuda kita dalam suatu ilusi berupa kesenangan instan yang mematikan daya juang, merusak kesehatan mental, dan memicu tindakan kriminall demi memenuhi hasrat kecanduan tersebut.
2. Kerapuhan Ketahanan Mental (loss of grit).
Budaya serba instan dari media sosial melahirkan generasi yang mengalami disorientasi eksistensial, dimana pemuda saat ini sangat rentan mengalami krisis identitas dan kecemasan sosial (fomo), namun memiliki tingkat ketahanan mental yang sangat rendah. Banyak dari mereka menjadi pribadi yang lembek, mudah frustasi, dan abai terhadap orientasi intelektual maupun spiritual.
3. Darurat Kambtibmas dan Fanatisme Buta.
Fenomena tawuran yang melibatkan oknum kelompok pemuda atau komunitas tertentu menunjukan bahwa hal ini merupakan kegagalan kanalisasi energi psikologis remaja, dimana remaja yang memiliki energi yang meluap-luap gagal diarahkan ke hal yang lebih positif, lalu meledak dalam bentuk fanatisme kelompok yang destruktif dan kekerasan komunal.
4. Krisis Perlindungan Kultural dan Tingginya Permohonan Dispensasi Kawin.
Tingginya angka dispensasi kawin di kabupaten Tulungagung banyak berawal dari perilaku pergaulan bebas, hal ini menjadi bukti bahwa banteng non-formal paling dasar yaitu ketahanan keluarga dan nilai religi mereka sedang mengalami kemunduran yang parah, remaja kehilangan figur teladan dan ruang aman, sehingga mencari pelarian di tempat yang salah.
Dari indikator permasalah diatas sudah menunjukan parahnya kemunduran dan kerapuhan moral pemuda di pusaran modern, dan jika hal tersebut dibiarkan tanpa adanya intervensi kita akan melihat lahirnya generasi yang mengalami alineasi atau keterasingan sosial, dimana mereka akan asing terhadap budaya dan nilai luhur tanah kelahiran mereka sendiri, dan di saat bersamaan mereka juga akan gagal dalam beradaptasi dengan sisi positif dari modernitas seperti kedisiplinan dan profesionalisme.
Dan ketika wilayah Tulungagung mulai ramai dengan peradaban penduduk dan peradaban yang baru, anak muda yang keropos moralnya ini hanya akan menjadi penonton yang frustasi. Mereka akan terjebak dalam lingkaran setan penyakit sosial, menjadi pelaku kriminal, terjebak candu, atau mengalami gangguan kesehatan mental massal. Kita kehilangan masa depan bukan karrena kekurangan infrastruktur, tapi karena kita membiarkan manusia hancur dari dalam.







