Refleksi Kemerdekaan 2026: Merah Putih Berkibar, Mengapa Korupsi Ikut Berkibar?

Oleh: Ulul Albab Akademisi Unitomo Surabaya

insanimedia.id, Surabaya, Agustus selalu datang membawa suasana yang berbeda. Di depan rumah-rumah, Merah Putih mulai berkibar. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul. Lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan. Anak-anak berlatih untuk lomba tujuh belasan. Bangsa ini seakan kembali mengenang detik-detik ketika kemerdekaan diproklamasikan.

Namun, di tengah semarak itu, ada pertanyaan yang mengusik nurani. Mengapa hampir setiap tahun, bahkan hampir setiap bulan, kita kembali mendengar kabar pejabat yang ditangkap karena korupsi?

Belum selesai masyarakat mencerna satu kasus, muncul kasus berikutnya. Belum hilang rasa kecewa terhadap satu pelaku, muncul nama baru dari institusi yang berbeda. Fenomena ini bukan lagi kejutan. Tetapi justru menjadi kabar rutinitas yang mengikis kepekaan kita.

Ironisnya, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula daya rusak korupsi yang ditimbulkannya. Uang negara yang seharusnya menjadi jalan bagi keberadaan sekolah yang lebih baik, rumah sakit yang lebih layak, irigasi yang lebih luas, dan pelayanan publik yang lebih bermartabat, justru berubah menjadi instrumen untuk memperkaya segelintir orang.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa korupsi terjadi. Tetapi, mengapa bangsa ini terus-menerus menghasilkan pemimpin yang gagal menjaga amanah? Pertanyaan ini tidak diarahkan kepada satu orang, satu lembaga, atau satu pemerintahan. Tetapi kita tujukan juga kepada diri kita sebagai bangsa.

Selama ini kita cenderung memandang korupsi sebagai persoalan hukum. Padahal, korupsi selalu dimulai jauh sebelum seseorang memasuki ruang sidang. Korupsi terjadi ketika jabatan dipandang sebagai hak istimewa, bukan sebagai amanah. Korupsi tumbuh ketika kekuasaan diperlakukan sebagai alat memperoleh keuntungan, bukan sebagai sarana melayani masyarakat.

Di sinilah refleksi kemerdekaan menemukan maknanya. Kemerdekaan tidak hanya diukur dari bebasnya sebuah bangsa dari penjajahan asing. Kemerdekaan juga diukur dari kemampuan bangsa membebaskan dirinya dari penjajahan yang datang dari dalam, yang bisa berupa: keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap amanah publik.

Baca Juga :  Kita Membutuhkan Atlas Korupsi Indonesia

Kita memang berhasil mengusir penjajah dari tanah air. Namun perjuangan belum selesai apabila ruang-ruang kekuasaan masih dijajah oleh nafsu untuk mengambil yang bukan haknya.

Korupsi bukan sekedar pelanggaran terhadap hukum negara. Lebih dari itu, korupsi merupakan pengingkaran atau penghianatan terhadap kepercayaan rakyat. Setiap rupiah yang disalahgunakan sesungguhnya adalah hak masyarakat yang dirampas secara diam-diam. Setiap keputusan yang diperjualbelikan adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kemerdekaan.

Mungkin karena itulah korupsi selalu meninggalkan luka yang lebih dalam dibanding hanya sekedar kerugian keuangan negara, merusak kepercayaan publik, melemahkan harapan rakyat. Bahkan, membuat generasi muda kehilangan keyakinan bahwa kejujuran masih memiliki tempat dalam kehidupan berbangsa.

Bulan Agustus seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan semua itu. Kita tidak cukup hanya memasang bendera di depan rumah. Kita juga perlu menegakkan “bendera integritas” di dalam hati. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya soal simbol yang berkibar di tiang-tiang halaman, melainkan nilai yang hidup dalam setiap keputusan yang diambil oleh mereka yang menerima amanah rakyat.

Bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas. Tidak pula kekurangan orang berpendidikan tinggi. Yang masih kita perjuangkan adalah hadirnya lebih banyak pemimpin yang sanggup berkata, “Jabatan ini bukan milik saya. Jabatan ini adalah titipan yang harus saya pertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Tuhan.”

Di momen penting Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun ini, pertanyaan yang paling layak kita renungkan bukanlah seberapa meriah perayaan kemerdekaan tahun ini. Tetapi, sudahkah kita memerdekakan kekuasaan dari keserakahan?

Saya percaya bahwa sebuah bangsa tidak runtuh gara-gara kehilangan kekayaan alamnya. Tetapi sebuah bangsa mulai kehilangan masa depannya ketika amanah kehilangan penjaganya. Dan ini yang perlu dicamkan: Merdeka bukan hanya soal lepas bebas dari penjajahan. Tetapi, merdeka adalah tegaknya amanah untuk membangun peradaban.